Pendidikan

Transformasi Peran Guru di Era Digital; Dari Kapur ke Layar

Dahulu, ruang kelas adalah satu-satunya tempat belajar. Guru menjadi sumber utama ilmu, dan papan tulis menjadi pusat perhatian. Kini, ruang kelas bisa berada di mana saja, di rumah, di taman, bahkan di dunia maya. Transformasi ini bukan sekadar perubahan alat, tetapi juga perubahan cara berpikir.

Masa Pandemi COVID-19 menjadi titik balik besarnya. Dunia pendidikan dipaksa beradaptasi cepat. Dari “kapur dan papan tulis”, guru beralih ke Zoom, Google Classroom, dan Learning Management System (LMS). Mereka bukan hanya pengajar, tapi juga menjadi pembelajar, iya.. belajar teknologi, belajar memahami psikologi anak yang belajar dari layar, dan belajar menghidupkan semangat di balik kamera. Namun, perubahan besar itu bukan tanpa tantangan. Tidak semua guru siap dengan teknologi tersebut, dan tidak semua daerah punya akses internet memadai.

Di sinilah tantangan sistem pendidikan kita dan para guru diuji. Dulu, guru identik dengan sosok yang “mengajar” atau menyampaikan pengetahuan, memberi tugas, lalu menilai. Kini, di era digital yang penuh informasi, peran itu bergeser. Ilmu pengetahuan sudah ada di ujung jari. Anak-anak bisa mencari definisi, rumus, atau teori dalam hitungan detik. Maka, guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan pemandu yang menuntun cara berpikir.

Guru masa kini tidak hanya menjadi pengajar tetapi juga menjadi fasilitator, yang membimbing siswa untuk memilah informasi, berpikir kritis, dan mengembangkan karakter. Mereka juga menjadi inspirator, yang menyalakan semangat belajar melalui keteladanan dan nilai-nilai kehidupan. Seperti pepatah Ki Hajar Dewantara, “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.” Maknanya semakin dalam di era digital — guru memimpin dengan teladan, membangun semangat di tengah, dan mendukung dari belakang, bahkan ketika jarak memisahkan.

Teknologi telah mengubah banyak hal dalam proses belajar mengajar, tapi ada satu hal yang tidak bisa digantikan: sentuhan kemanusiaan seorang guru terutama guru sebagai pendidik. Kecerdasan buatan (AI) bisa menjawab pertanyaan, tetapi tidak bisa merasakan perjuangan seorang murid yang berjuang memahami pelajaran. Internet bisa saja menyediakan data yang lengkap, tetapi tidak bisa memberi makna. Hanya guru yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan nilai kehidupan. Guru adalah sosok yang mampu melihat potensi di balik kesulitan, yang bisa berkata: “Kamu bisa, Nak. Coba lagi.” Kalimat sederhana itu, yang lahir dari ketulusan, sering kali lebih kuat daripada seribu data digital. Oleh karena itu, kemajuan teknologi seharusnya tidak menggantikan peran guru, melainkan memperkuatnya. Teknologi menjadi alat bantu, bukan penguasa ruang belajar.

Transformasi peran guru juga menuntut transformasi keterampilan. Guru abad ke-21 bukan hanya harus menguasai materi, tetapi juga kompetensi digital, komunikasi kreatif, dan kemampuan berpikir kritis. Mereka harus bisa membuat pembelajaran lebih menarik, melalui video pembelajaran, kuis interaktif, atau bahkan proyek kolaboratif lintas sekolah bahkan lintas negara. Namun, di balik semua itu, guru tetap harus memiliki karakter luhur: kesabaran, empati, dan integritas. Karena teknologi tanpa nilai hanyalah alat, bukan arah. Kita perlu mendukung guru dalam perjalanan transpormasi ini yakni dengan memberi pelatihan, menyediakan fasilitas, dan yang paling penting memberi penghargaan yang layak. Sebab sejatinya, setiap kemajuan bangsa berakar dari kualitas guru-gurunya. Setiap 25 November, kita memperingati Hari Guru Nasional. Bukan sekadar hari seremonial semata, tetapi momen untuk merenungkan kembali makna seorang guru dalam hidup kita. Di balik kemajuan teknologi, algoritma, dan sistem digital, ada sosok yang mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia seutuhnya. Kita mungkin tak lagi mencium tangan guru setiap pagi di depan kelas (walaupun kadang beberapa daerah masih membiasakan ini), tapi rasa hormat itu tetap hidup di hati. Kita mungkin tak lagi melihat debu kapur menempel di jari-jarinya, tapi kita tahu jari-jari itu kini mengetik pesan, membuat materi, dan membuka ruang belajar bagi jutaan anak Indonesia. Hari Guru bukan hanya tentang mengucap terima kasih, tapi juga tentang melanjutkan semangat mengajar dan belajar, karena sejatinya kita semua adalah murid yang tak pernah selesai belajar. Pada akhirnya perjalanan seorang guru adalah perjalanan panjang dari kapur ke layar dari ruang kelas sederhana hingga dunia digital tanpa batas. Namun, di setiap langkah perubahan itu, satu hal tetap menyala: cinta untuk mendidik. “Selamat Hari Guru Nasional”. Terima kasih untuk semua guru yang mengajar dan mendidik anak bangsa di kota hingga di pelosok, yang mengajar di sekolah maupun dari rumah, yang menulis di papan atau mengetik di layar. Dari tangan dan hati kalian, lahir masa depan bangsa, semoga guru tetap menjadi pelita dalam kegelapan. “Guru bukan hanya profesi, melainkan jiwa yang terus menyalakan cahaya bahkan di tengah gelapnya zaman.” “Engkau sabagai pelita dalam kegelapan Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan Engkau patriot pahlawan bangsa Tanpa tanda jasa”

agusdin

Dosen, Blogger, Pemerhati Sosial, dan.... seorang Suami dan Abi. Terima kasih sudah berkenan mampir dan membaca artikel-artikel di personal website saya..

Related Articles

Back to top button