Pentingnya Etika Tutur Kata dalam Proses Belajar Mengajar
Bahasa adalah jembatan antara pengetahuan dan pemahaman. Di ruang kelas, ia bukan sekadar alat untuk menyampaikan materi, tetapi juga sarana untuk membangun karakter dan suasana belajar. Dalam setiap kata yang diucapkan dosen dan mahasiswa, tersimpan nilai-nilai sopan santun, penghargaan, dan tanggung jawab intelektual.
Namun sayangnya, di era kebebasan berekspresi dan komunikasi cepat, etika tutur sering kali terabaikan, baik di ruang kuliah maupun dalam percakapan daring. Padahal, kata yang baik bukan hanya mencerdaskan pikiran, tapi juga menenangkan hati.
Bahasa tidak pernah netral. Ia selalu memantulkan kepribadian penggunanya.
Dosen yang berbicara dengan nada rendah hati, memberi contoh bagaimana ilmu seharusnya disampaikan dengan kebijaksanaan. Mahasiswa yang bertanya dengan sopan menunjukkan kedewasaan berpikir dan menghargai proses belajar.
Sebaliknya, nada bicara yang kasar, komentar yang merendahkan, atau pesan singkat tanpa salam sering kali menciptakan jarak emosional dan merusak suasana akademik.
Etika tutur yang baik bukan sekadar formalitas — ia merupakan cermin karakter ilmiah dan kematangan emosional seseorang.
Misalnya, perbedaan kecil antara ucapan “Salah, kamu tidak mengerti konsep ini!” dan “Coba perhatikan bagian ini, mungkin ada yang terlewat dari pemahamanmu,” bisa memberi dampak besar terhadap semangat belajar mahasiswa. Kata pertama menekan, kata kedua mengajak. Yang satu mematahkan, yang lain membangun.
Dalam konteks akademik, dosen tidak hanya menjadi sumber ilmu, tetapi juga model komunikasi etis bagi mahasiswanya. Cara seorang dosen menegur, menjawab pertanyaan, atau mengkritik tugas mahasiswa dapat menjadi pelajaran hidup yang lebih berharga daripada isi kuliah itu sendiri.
Dimana etika tutur kata seorang dosen dapat terlihat dari:
- Pemilihan kata yang santun namun tegas.
- Kemampuan mengendalikan emosi ketika menghadapi mahasiswa yang kurang sopan atau tidak siap.
- Kemauan untuk mendengar sebelum menilai.
- Menggunakan humor dengan bijak tanpa menyinggung.
Ketika dosen mampu menghadirkan suasana komunikasi yang menghargai martabat mahasiswa, kelas menjadi ruang dialog yang hidup. Mahasiswa merasa aman untuk berbicara, berpendapat, dan berbuat salah tanpa takut dipermalukan. Di situlah proses belajar sejati tumbuh.
Etika tutur kata juga menjadi tanggung jawab mahasiswa. Dalam budaya akademik, berbicara kepada dosen, baik secara langsung maupun melalui media daring menuntut kesadaran akan konteks dan peran. Sopan santun dalam bertanya, mengemukakan pendapat, atau menanggapi kritik bukanlah bentuk inferioritas, tetapi pengakuan terhadap tatanan akademik.
Mahasiswa perlu menyadari bahwa tutur kata yang baik mencerminkan keseriusan dan rasa hormat terhadap ilmu, bukan sekedar kepada dosennya. Menggunakan bahasa santun, tidak memotong pembicaraan, dan menyampaikan ketidaksetujuan dengan alasan rasional adalah bagian dari etika komunikasi ilmiah.
Ungkapan seperti “Saya kurang sependapat, Bu, karena menurut teori lain…” jauh lebih bermartabat dibanding “Saya rasa itu tidak benar.”
Perbedaan dalam dunia akademik adalah hal biasa, tetapi cara mengungkapkannya menunjukkan kualitas berpikir seseorang.
Kita sering lupa bahwa kata-kata memiliki daya membentuk realitas. Satu kalimat bisa memotivasi mahasiswa untuk terus belajar, tapi satu kalimat lain bisa membuatnya kehilangan kepercayaan diri mahasiswa tersebut. Di sinilah peran besar etika tutur kata dalam lingkungan pendidikan: bagaimana setiap interaksi di ruang kuliah menjadi pendidikan karakter yang nyata.
Setidakanya ada beberapa tutur bahasa yang mendidik yang harus dijaga, anatara lain:
- Menghargai martabat lawan bicara.
- Menumbuhkan semangat belajar, bukan rasa takut.
- Mendorong refleksi dan rasa ingin tahu.
- Menyampaikan kebenaran tanpa merendahkan.
Ketika dosen menegur dengan penuh hormat dan mahasiswa menanggapi dengan rendah hati, terciptalah lingkaran komunikasi positif yang memperkuat budaya akademik yang sehat.
Namun di masa kini, ketiak sebagian besar komunikasi antara dosen dan mahasiswa berlangsung melalui pesan digital, email, grup WhatsApp, atau platform pembelajaran daring. Bahasa tulis menggantikan bahasa lisan, namun tanggung jawab etika tetap sama. Tapi sayangnya, banyak mahasiswa yang menulis pesan akademik dengan gaya percakapan kasual, seperti berbicara dengan teman sebaya:
“Pak, tugasnya dikumpul jam berapa ya?”
atau
“Bu, saya udah kirim revisi, dicek ya.”
Padahal, komunikasi akademik menuntut formalitas tertentu. Cukup dengan menambahkan salam pembuka terutama ketika dia awal percakapan, perkenalan diri, karena tidak semua dosen menyimpan no mahasiswanya, dan ucapan terima kasih, pesan menjadi jauh lebih sopan dan profesional.
Misalnya:
“Selamat siang, Bu. Saya Andi dari kelas C. Mohon izin mengonfirmasi waktu pengumpulan tugas, apakah masih bisa dikirim hari ini? Terima kasih sebelumnya.”
Kalimat sederhana itu menunjukkan rasa hormat, tanggung jawab, dan kedewasaan. Etika tutur digital seharusnya menjadi bagian dari literasi akademik mahasiswa zaman sekarang.
Pendidikan bukan sekadar soal transfer pengetahuan, tetapi juga penanaman nilai. Bahasa adalah salah satu sarana utama untuk menanamkan nilai itu. Oleh karena itu, kampus perlu menumbuhkan budaya komunikasi yang beradab dengan cara:
- Mengintegrasikan etika komunikasi akademik dalam orientasi mahasiswa baru.
- Memberikan pelatihan komunikasi efektif bagi dosen dan tenaga pengajar.
- Menetapkan pedoman komunikasi resmi antara dosen–mahasiswa, baik lisan maupun digital.
Langkah-langkah kecil ini dapat menciptakan lingkungan akademik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga dewasa secara emosional dan sosial.
Dengan memahasmi batasan etika dalam komunikasi yang telah dijelaskan di atas dan menggunakan bahasa yang mendidik bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin martabat dunia akademik. Dalam setiap tutur kata dosen dan mahasiswa, terdapat nilai kejujuran, rasa salaing hormat, dan kasih terhadap ilmu. Etika tutur kata juga mengajarkan kita bahwa menjadi cerdas bukan hanya soal berpikir logis, tetapi juga tentang berbicara dengan hati.
Karena pada akhirnya, ilmu yang besar hanya dapat tumbuh dalam budaya tutur yang beradab.
Dan pendidikan yang sejati bukan hanya mengajarkan “apa yang harus dikatakan,” tetapi juga “bagaimana seharusnya kita berkata.”




