Teknologi

Konsumerisme Digital: Saat “Scroll” Menjadi Gaya Hidup Baru

Di era digital saat ini, kadang belanja tidak lagi menjadi aktivitas yang direncanakan. Kita tidak perlu lagi berjalan ke toko, mengantri di kasir, atau bahkan menunggu hari libur untuk berbelanja. Cukup hanya dengan menggulir layar smartphone, produk yang kita inginkan atau bahkan yang sebenarnya tidak kita butuhkan siap dikirim ke rumah. Maraknya e-commerce dan media sosial telah melahirkan budaya konsumsi baru yaitu: “konsumerisme digital”.

Fenomena ini bukan hanya soal kemudahan teknologi, tapi juga perubahan cara kita berpikir, kebiasaan, dan bahkan gaya hidup Masyarakat saat ini. Media sosial, yang awalnya menjadi ruang berbagi informasi dan ekspresi diri, kini telah berubah menjadi etalase yang luar biasa yang penuh dengan penawaran, promo kilat, dan rekomendasi produk dari influencer.

Namun dibalik kemudahan itu, muncul budaya serba cepat, banyak orang ingin membeli, mendapatkan, dan menikmati sesuatu dalam waktu singkat. Promo “flash sale 5 menit”, pengiriman instan, hingga tombol beli sekarang – bayar nanti memupuk mentalitas serba instan, khususnya dalam berbelanja.

Tidak hanya itu, tekanan sosial di media sosial memperkuat fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau “rasa takut ketinggalan tren”. Ketika teman atau selebgram memamerkan barang baru, perasaan ingin ikut memiliki muncul, bahkan jika barang itu tidak benar-benar dibutuhkan. Algoritma platform memperkuat keinginan tersebut dengan menampilkan iklan personalisasi yang sulit kita hindari.

Belanja digital sering kali menjadi pelarian emosional: ketika bosan, stres, atau sekadar ingin memanjakan diri. Proses klik dan checkout memberikan sensasi dopamin singkat, mirip seperti makan makanan manis atau menonton konten lucu. Namun, kepuasan itu cepat hilang, dan siklusnya berulang lagi. Inilah yang membuat konsumsi digital bukan hanya kegiatan ekonomi, tapi juga fenomena psikologis. Tanpa pengendalian, perilaku ini dapat berujung pada kecanduan belanja, kesulitan finansial, dan rasa tidak pernah puas.

Peran Influencer dan Narasi Gaya Hidup

Influencer kini berperan besar dalam membentuk pola konsumsi. Mereka tidak hanya menjual produk, tapi mereka menjual gaya hidup. Ketika membeli suatu barang dikaitkan dengan kesuksesan, estetika, atau “kekinian”, konsumen mulai mengaitkan nilai diri dengan apa yang mereka miliki, bukan siapa jati diri mereka sendiri, dengan narasi seperti “Ini yang lagi viral, maka wajib punya!” atau “Biar aesthetic seperti aku”, masyarakat seakan terdorong untuk terus membeli demi mempertahankan citra digital mereka.

Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana membangun kesadaran agar masyarakat lebih bijak dalam menghadapi arus konsumsi digital. Pendidikan literasi digital tidak cukup hanya fokus pada keamanan data dan informasi, tetapi juga:

  • Mengenalkan konsep konsumsi sadar (mindful consumption)
  • Mendorong kebiasaan finansial sehat
  • Mengajarkan membedakan kebutuhan dan keinginan
  • Mengenali manipulasi psikologis dalam iklan digital

Jadi kita sebagai generasi muda atau lebih awam sebagai kalangan Gen-Z, sebagai pengguna internet paling aktif, perlu dibekali kemampuan berpikir kritis agar tidak terjebak dalam pola konsumtif yang berlebihan.

E-commerce dan media sosial tidak akan berhenti berkembang. Teknologi seperti AI, augmented reality, dan live shopping akan membuat pengalaman belanja semakin mudah dan menarik. Tantangannya bukan menolak teknologi, melainkan mampu menggunakan dan mengendalikannya dengan baik dan bijak.

Alih-alih menjadi konsumen yang dikendalikan algoritma, maka kita perlu menjadi konsumen yang sadar, cerdas, dan bertanggung jawab. Karena pada akhirnya, kemajuan teknologi seharusnya membuat hidup lebih berkualitas—bukan sekadar penuh barang.

Semoga..

agusdin

Dosen, Blogger, Pemerhati Sosial, dan.... seorang Suami dan Abi. Terima kasih sudah berkenan mampir dan membaca artikel-artikel di personal website saya..

Related Articles

Back to top button