Bijak Memilih Teknologi: Jangan Sampai gadget Lebih Pintar dari Kita
Di zaman sekarang ini, rasanya percepatan perkembangan teknologi itu bukan lagi seperti lari maraton tapi pakai jet, super cepat. Baru pekan kemarin saya lihat iklan handphone terbaru, eh hari ini sudah keluar versi yang lebih canggih. Laptop juga begitu: lebih tipis, lebih ringan, lebih cepat. Pokoknya, semua berlomba untuk jadi yang “paling”.
Masalahnya adalah, perkembangan super cepat ini sering kali membuat beberapa dari kita merasa “harus” selalu punya yang terbaru. Teman ganti HP, kita ikut penasaran. Karyawan kantor pakai laptop baru, kita mungkin mulai merasa laptop sendiri kok “kurang”. Padahal, kalau dipikir lagi, sebagian besar perangkat yang kita miliki sekarang itu sebenarnya masih sangat layak pakai.
Teknologi itu seharusnya membantu hidup kita, bukan membuat kita merasa kurang atau memaksa dompet untuk berdiet terus. Kali ini saya akan mencoba menulis artikel ini untuk mengajak kita semua melihat cara yang lebih santai, lebih realistis, dan lebih bijak dalam memilih laptop atau handphone atao gadget lainnya. Biar tetap up-to-date, tapi tetap waras.
Setiap produsen gadget itu punya satu hobi: merilis produk baru, lagi dan lagi, dan kalo bisa dikatakan memang itulah SOP mereka, selalu mempromosikan hal hal yang baru. Setiap bulan ada saja inovasi yang ditawarkan. Kamera lebih besar, RAM lebih banyak, layar lebih bening, baterai lebih awet. Semua terdengar keren dan up to date, tapi perlu ditanya: apakah benar kita membutuhkan semua itu?
Mungkin dari kita suka tergoda dengan embel-embel “baru”. Padahal kenyataannya, sebagian besar dari kita memakai HP untuk hal-hal standar: chat, foto makanan, buka Instagram, nonton video, sesekali kerja. Begitu juga laptop: dipakai untuk mengetik, Zoom, browsing, atau nonton drama, drama korea lagi atau nonton online film bajakan.
Kita sering merasa “gadget lama jadi jelek” bukan karena performanya menurun, tapi karena iklan membuat kita berpikir begitu.
Mungkin sebelum membeli perangkat baru, mari coba tanya pada diri sendiri: “Apa yang sebenarnya saya butuhkan?”
Untuk laptop, misalnya:
- Apakah saya hanya perlu mengetik, Zoom, dan browsing saja?
- Apakah pekerjaan saya butuh software berat sepereti editing video, rendering, coding?
- Apakah saya sering bawa laptop ke mana-mana, jadi butuh yang ringan?
Jika kita penggunaan dari laptop tersebut tugasnya hanya sekedar bikin laporan tentu tidak butuh laptop prosesor tinggi belasan juta.
Sedangkan untuk handphone:
- Apakah kamera penting untuk pekerjaan professional atau sekadar hobi dan pakai sesekali saja? Karena ini akan mempengaruhi harga, semakin bagus lensanya makan akan semakin malah harga hpnya.
- Apakah saya butuh baterai super awet, karena mobilitas yang tinggi?
- Apakah saya main game berat setiap hari, atao hanya game game ringan? Karena akan berpengaruh pada GPU yang ditanam di dalamnya, semakin kencang GPU nya makan akan semakin mahal juga harga yang ditawarkan.
- Apakah memori besar penting? Memiliki memori yang 64 ggb atau 256 gb saya rasa cukup untuk sekedar kebutuhan sehari-hari dan bahkan kalua untuk 256 ggb saya rasa juga sudah berlebih. Coba lihat memori HP kita setelah beberapa tahun yang pernah terpakai, berapa banyak memori yang “nganggur”.
Dengan menjawab pertanyaan sederhana diatas ini bisa menyelamatkan kita dari pembelian tidak perlu yang akhirnya cuma bisa bikin stress, dan dompet kempes.
Tidak Semua Orang Harus Punya Gadget Termahal. Ini poin penting tapi sering diabaikan. Kita kadang merasa harus membeli HP flagship agar terlihat “melek teknologi”. Padahal, HP kelas menengah hari ini sudah sangat bagus dan bahkan sulit dibedakan hasil fotonya dari HP 15 juta jika tidak dilihat detail.
Laptop pun begitu. Laptop kelas 6–18 jutaan juga sudah bisa dikatakan sangat cukup, dan tidak perlu menggunakan merk yang terkenal, toh kita bukan menggunakan merknya tetapi fungsinya, untuk mayoritas pekerjaan dasar. Yang perlu laptop mahal hanyalah mereka yang memang membutuhkan tenaga lebih, bukan sekadar ingin terlihat keren, tetapi benar-benar orang professional dengan pekerjaanya. Ingat, yang mahal tidak selalu yang paling cocok untuk kita.
Suatu hari, mungkin kita pernah merasa HP tiba-tiba lambat padahal baru setahun dipakai? Bisa jadi bukan HP-nya, tapi pikiran kita yang terpengaruh iklan atau review yang terlalu memuji produk baru.
Ingat, membeli gadget baru itu bukan cuma bayar HP atau laptopnya saja. Ada biaya lain, tetapi ada juga biaya yang perlu kita keluarkan, seperti: aksesori, casing, perlindungan layar, kuota internet besar karena sering update aplikasi, dan tentunya nilai jual barang yang cepat turun, atau bisa bisa tidak berguna lagi.
Selain itu, setiap perangkat baru yang kita beli berarti ada lebih banyak limbah elektronik di bumi. Padahal sebagian besar HP dan laptop bisa dipakai 3–5 tahun dengan perawatan yang baik. Bisa kita lihat sendiri berapa banyak “buntang (=sampah)” hp dan laptop di rumah kita?
Setidakanya ada beberpa tips Simpel Agar Tidak Salah Pilih Gadget
- Tetapkan Anggaran Sejak Awal
Ini cara paling efektif untuk mencegah diri tergoda, jangan memaksakan untuk membeli barang yang tidak sesuai dengan kebutuhan kita. Beli Sesuai Kebutuhan, Bukan Gengsi, karena Teknologi itu alat, bukan ukuran status sosial.
- Lihat Review yang Obyektif
Jangan hanya percaya komentar teman yang suka meng-upgrade tiap 6 bulan, tetapi lihat dan review perbandingan antara barang dan versi ter-update-nya
- Jangan Beli Saat Baru Rilis
Karena harga biasanya akan turun setelah beberapa minggu, atau lihat kompetitor yang sama. Biasanya persaingan dan perang harga akan terjadi dengan penurunan harga.
- Coba Perbaiki Sebelum Mengganti
Ganti baterai atau pasang SSD sering membuat laptop lama jauh lebih cepat, dan ini sering saya lakukan sendiri, dengan menambah ram dan mengganti dari HDD ke SSD.
- Teknologi Adalah Alat, Bukan Penentu Siapa Kita
Ada orang yang bangga dengan HP-nya, tapi lupa bahwa HP tidak akan otomatis membuat foto lebih bagus kalau fotografernya belum paham komposisi. Laptop mahal juga tidak membuat seseorang tiba-tiba jadi produktif kalau aplikasi yang dibuka hanya sekedar YouTube, tiktok, medses lainnya atau sekedar main game.
Yang membuat kita berkembang adalah cara kita memanfaatkan teknologi, bukan harga perangkatnya.
Pada akhirnya menggunakan teknologi secara bijak bukan berarti jadul. Justru, itu menandakan kita punya kontrol atas keputusan yang kita buat. Kita tahu apa yang kita butuhkan, apa yang tidak penting, dan mana yang sekadar godaan sesaat.
Jadi sebelum membeli HP atau laptop baru, tanyakan hal sederhana:
“Apakah ini kebutuhan, atau hanya keinginan untuk terlihat mengikuti tren?”
Jika jawabannya jujur, keputusan kita akan jauh lebih nyaman—baik untuk dompet maupun ketenangan hati.
Semoga..




