Agusdin

Terima kasih sudah berkunjung di rumah inspirasi..

Akankah DME Menjadi Harapan Pengganti LPG Rumah Tangga

Batubara adalah mineral organik yang dapat terbakar. Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan purba yang mengendap, lalu berubah bentuk melalui proses fisika dan kimia, menjadi batu mineral.

Proses ini membutuhkan waktu selama jutaan tahun. Perubahan tumbuhan menjadi batubara disebut dengan pembatubaraan (coalification). Perbedaan Jenis tumbuhan purba, sesuai dengan jaman geologi, lokasi tempat tumbuh dan berkembangnya, ditambah dengan lokasi pengendapan (sedimentasi) tumbuhan, lalu pengaruh tekanan batuan dan panas bumi serta perubahan geologi yang berlangsung kemudian, menyebabkan terbentuknya batubara dengan jenis bermacam-macam. Oleh karena itu, karakteristik batubara berbeda-beda sesuai dengan lahan batubara (coal field) dan lapisannya (coal seam).

Berdasarkan data perhitungan Kementerian ESDM, Jumlah cadangan batubara Indonesia pada pertengahan tahun 2021, mencapai 38,84 miliar ton dengan rata rata produksi batubara sebesar 600 juta ton pertahun. Artinya dengan rerata produksi sedemikian, umur cadangan batubara tersebut masih bisa dimanfaatkan selama 65 tahun lagi. Asumsi ini dimunculkan apabila tidak ditemukannya cadangan baru. Cadangan Batubara terbesar saat ini ada di Kalimantan dan Sumatera, dimana kalimantan menyimpan 62,1% dari total potensi dan sumberdaya yang ada.

Konsumsi batubara dalam negeri meliputi; penggunaan batubara di PLTU untuk menghasilkan pembangkit energi listrik, industri semen, industri kertas, industri tekstil, industri metalurgi dan industri lainnya. Selain digunakan untuk pemenuhan kebutuhan nasional, batubara juga diekspor keberbagai negara, antara lain; Cina, India, Korea Utara, jepang, filipina, malaysia dan negara lainnya. Ekspor Terbesar ditujukan kenegara Cina yaitu sebesar 32% pada tahun 2019 dan 31% pada tahun 2020.

Senin, Tanggal 24 Januari 2022 Bapak Presiden Joko Widodo meresmikan proses pembangunan peletakan batu pertama alias groundbreaking proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME), proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimetil Eter (DME) di Kawasan Industri Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Proyek pembangunan gasifikasi batubara ini, merupakan tindak lanjut dari proyek senilai Rp 33 triliun yang dikerjakan bersama antara PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Pertamina (Persero) dan Air Products & Chemicals Inc (APCI), perusahaan petrokimia asal Amerika Serikat.  Adapun investasi pembangunan proyek ini, sepenuhnya dilakukan oleh Air Products, sementara PTBA berperan sebagai pemasok batu bara, dan Pertamina sebagai pembeli produk DME nantinya.

Tidak hanya dengan PTBA proyek kerjasama gasifikasi DME ini juga dilakukan dengan beberapa perusahaan Tambang lainnya, antara lain; PT Indika Energy Tbk dengan kapasitas produksi 500 ribu pertahun, dan PT Berau Coal dengan kapasitas produksi 1,4 Juta ton pertahun. Sedangkan, Beberapa Perusahaan seperti PT Kaltim Prima Coal, PT Arumin Indonesia dan PT Adaro Energy Tbk, melakukan proyek hilirisasi batubara menjadi Methanol. Banyaknya kerjasama Air Products & Chemicals Inc dengan beberapa perusahaan, ini menjadi investasi terbesar kedua di Indonesia setelah Freeport.

Proyek DME di Tanjung Enim ini, memiliki rencana operasi yang akan berlangsung selama 20 tahun. Dengan utilisasi 6 juta ton batu bara per tahun, dengan rencana target menghasilkan 1,4 juta DME per tahun, yang bertujuan untuk mengurangi impor LPG 1 juta ton per tahun. Sehingga, dapat memperbaiki neraca perdagangan, karena selama ini negara kita masih mengimpor LPG sekitar 6-7 juta ton per tahun.

Target pembangunan proyek DME akan beroperasi menghasilkan produk DME pada pertengahan tahun 2024, sebagaimana target pengerjaan akan selesai dalam kurun waktu 30 bulan.

DME adalah bahan bakar multi-source (dapat diproduksi dari banyak sumber), di antaranya dari gas alam, fuel oil, batubara, limbah plastik, limbah kertas, limbah pabrik gula, dan biomassa. Konsumsi DME mencapai 10.000 ton per tahun. Sebagian besar DME bisa digunakan sebagai aerosol propellant pada hair spray atau deodorant. Karena sifat dan kualitasnya yang hampir sama dengan LPG, DME dapat digunakan untuk mensubsitusi sebagian dari pemakaian LPG.

Dimethyl Ether (DME) memiliki monostruktur kimia yang sederhana (CH3-O-CH3), berbentuk gas yang tidak berwarna pada suhu ambien, zat kimia yang stabil, dengan titik didih -25,1oC. Tekanan uap DME sekitar 0,6 Mpa pada 25oC dan dapat dicairkan seperti halnya LPG. Viskositas DME 0,12-0,15 kg/ms, setara dengan viskositas propana dan butana (konstituen utama LPG), sehingga infrastruktur untuk LPG dapat juga digunakan untuk DME.

DME memilki kandungan panas sebesar 7.749 Kcal/Kg. Sisi lain kandungan panas pada tabung LPG lebih berat kira-kira 12.076 Kcal/Kg, adapun perbandingan kalori antara DME dan LPG sekitar 1 berbanding 1,6, artinya panas yang dihasilkan DME lebih kecil dibandingkan LPG, dengan demikian volume penggunaan DME nantinya akan lebih banyak dibandingkan penggunaan LPG.

Pemakaian gas DME 100% telah dilakukan uji coba di wilayah Kota Palembang dan Muara Enim pada bulan Desember 2019 – Januari 2020 kepada 155 kepala keluarga. Selain itu, uji coba ini juga pernah diterapkan pada masyarakat di Jakarta pada tahun 2017, dengan kandungan DME 20% (campuran LPG 80% + 20% DME), 50%, dan 100%. Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan kepada masyarakat, tidak terdapat kendala dalam pemakaian DME  dan bisa diterima oleh masyarakat.

Pembangunan proyek hilirisasi batu bara ini, diperkirakan akan membuka ribuan lapangan kerja baru dan menyerap hingga 12 – 13 ribu tenaga kerja. Pemenuhan kebutuhan tenaga kerja untuk proyek ini diharapkan dapat diisi oleh tenaga kerja dalam negeri. Karena, pengangguran yang ada saat ini, terhitung lebih dari 10 juta penduduk.

Penggunaan DME sebagai sumber energi yang lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan LPG, sebagaimana yang dinyatakan oleh Agung Pribadi Kepala Biro komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerjasama Kementerian ESDM, dimana Kalau LPG menghasilkan emisi 930 kg CO2-eq/tahun, nanti dengan menggunakan DME hitungannya akan berkurang menjadi 745 kg CO2-eq/tahun.

Tetapi jangan lupa… bahwa, setiap produksi pengolahan Batubara, selalu memiliki efek negatif berupa emisi gas rumah kaca yang lebih besar. Selain itu juga, pengolahan Batubara terutama mulut tambang dapat menghasilkan kerusakan lingkungan. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh AEER (Aksi Ekologi Emansipasi Rakyat), menyatakan bahwa adanya hilirisasi batubara ini akan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih besar yakni, sebesar lima kali lebih lebih besar dibandingkan produksi LPG. Dimana, dengan memproduksi DME berkapasitas 1,4 juta ton pertahun, akan menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 4,26 juta ton CO2-eq/tahun. Diharapkan nantinya, ada teknologi yang bisa menekan emisi gas rumah kaca yang telah dihasilkan ini.

Sampai saat ini, harga LPG dipasaran dunia adalah seharga USD 850 per Ton atau dengan harga keekonomian sebesar lebih kurang Rp 11.400 per kg. Sedangkan, harga DME adalah sebesar USD 650 sampai USD 700 per ton. Dengan demikian, diharapkan dengan memproduksi DME sebagai substitusi atau sebagai pengganti LPG, mampu mengurangi subsidi pemerintah dalam bidang kebutuhan energi rumah tangga. Masyarakat tentunya mengharapkan harga DME akan lebih rendah dari harga LPG sebelumnya.

Disisi lain,  alternatif pengurangan penggunaan LPG telah dilakukan dengan penggunaan gas alam atau menggunakan kompor listrik. Pada beberapa wilayah juga telah menggunakan alternatif berupa gas untuk kebutuhan rumah tangga, yakni dengan penggunaan gas alam, yang harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan LPG. selain itu juga, penggunaan gas alam seperti yang dilakukan oleh Pertamina asset 2 Prabumulih kepada 42 ribu lebih rumah tangga, telah mampu mengurangi subsidi pemerintah hingga Rp 35 milyar pertahunnya. Sementara, penggunaan kompor listrik sebagai alternatif untuk memasak, belum banyak digunakan oleh rumah tangga, disebabkan oleh harga listrik yang masih dirasakan cukup mahal bagi masyarakat saat ini.

Sudah di terbitkan di:

- Harian Swaranews

- PalPres

Assalamualaikum.. Saya Agusdin, sekedar berbagi pengalaman, cerita ide, inspirasi dan pengetahuan.. Terima kasih telah berkunjung di website saya, jangan lupa juga berkunjung di youtube saya Agusdin Center Terima Kasih..

Hubungi Saya

5617 Glassford Street
San Francisco, CA 94105,
United States
Text: (+62) 085267
agusdin@gmail.com

Infromasi Lain

Kontak Saya

Update informasi terbaru

Dapatkan informasi terbaru dari saya dengan cara berlangganan

Login