Sejak diberlakukannya belajar dari rumah oleh Dinas Pendidikan Kota Palembang, disebabkan oleh adanya pandemi covid-19. Maka semua sekolah diliburkan, dan proses belajar mengajar anak-anak dilakukan secara jarak jauh. Guru melakukan tugasnya dari rumah dan muridnya juga belajar dari rumah. Walaupun sebenarnya, proses belajar mengajar hanya sekedar memberikan tugas dan selanjutnya yang menjadi guru adalah orang tua di rumah.

Proses kegiatan mengajar anak di rumah tentu menjadi tugas tambahan yang berat bagi orang tua. Apalagi jika orang tuanya masih disibukkan oleh aktifitas sehari-hari di luar rumah, sehingga pelajaran anak menjadi tertinggal.

Ada beberapa kendala dalam proses belajar di rumah antara lain; ada anak yang lebih semangat belajar bersama dengan teman-temannya. Contohnya, Farhan anak saya, betapa semangatnya ketika akan diberi les tambahan di luar. hal ini dikarenakan di tempat les tersebut, ada teman sekelasnya. Selain itu juga, anak-anak terkadang lebih "nurut" dengan guru atau ustzahnya dibandingkan dengan orang tua. Nah, dalam hal ini peran orang tua dalam memotivasi anak sangatlah dibutuhkan. Lalu bagaimana jika masih susah juga?. Maka mau tidak mau, harus dikomunikasikan dengan guru sang anak. Disinilah peran guru dituntut untuk terus memonitor perkembangan kemajuan anak didiknya.

Farhan (anak saya) ketika diberitahu ada tugas dari guru untuk menyelesaikan PR membaca, menulis dan berhitung, Ia dengan antusias sekali mengerjakannya. Namun sekali lagi setiap anak memiliki ke"unikan" tersendiri, tinggallah bagaimana orang tua mensiasatinya.

ya, menjadi guru dirumah bukan tugas yang mudah. Hal ini juga kami rasakan, meskipun kami juga sebagai pengajar, namun dengan tingkat pendidikan yang berbeda. Tetapi kami tetap berusaha bagaimana supaya anak kami tetap belajar dan termotivasi untuk belajar. Diskusi di grub WA (biasanya emak-emak itu memiliki grub sekolah untuk saling pantau), seharusnya menjadi ajang saling tukar pendapat antar orang tua dan guru, bagaimana cara membuat anak-anak untuk tetap bisa belajar di rumah.

Ada beberapa tingkatan kesulitan yang dialami orang tua dalam menerapkan belajar dari rumah yaitu; Pertama, orang tua penuh menjadi guru dan motivator anak. Hal ini berlaku untuk anak yang masih dibilang benar-benar baru masuk sekolah, misal kelas 1-2 sekolah dasar. Orang tua sangat dituntut untuk membimbing proses belajar anak tersebut, karena setiap anak memiliki keunikan tersendiri yang tentunya orang tua harus lebih tahu tentang hal ini.

Yang Kedua adalah orang tua sebagai motivator bagi anaknya. Hal ini tentu berlaku bagi anak-anak yang telah mampu membaca, menulis dan menganalisa. Terkadang mungkin orang tuanya sendiri kurang memahami apa yang dipelajari oleh anaknya. Misalnya, dalam pelajaran matematika sudah masuk pada pelajaran yang agak sulit, contohnya integral.  Contoh lainnya dalam rumus fisika yang cukup ribet, dan masih banyak lagi. Maka mau tak mau, referensi dari guru tentulah sangat diharapkan.

Dalam beberapa diskusi webinar kementerian pendidikan yang pernah saya ikuti. Pada kondisi belajar dari rumah ini, sebenarnya penilaian terhadap anak didik, bukanlah sekedar menilai peningkatan kemampuan anak dalam menyelesaikan soal-soal yang ada dibuku pelajaran sekolah. Akan tetapi juga, menilai bagaimana kedekatan anak didiknya dengan orang tua, dan bagaimana sikap bersama keluarga selama di rumah. Artinya peningkatan moral yang lebih diutamakan, karena bagaimana mungkin menilai peningkatan kemampuan anak didik menyerap pelajaran sekolah, kalau proses transfer pendidikan itu sendiri tidak maksimal.

Adanya pandemi ini mengingatkan kita sebagai orang tua untuk tetap mengikuti proses perkembangan pelajaran anak kita. Jangan sampai kita sebagai orang tua, tidak tahu proses yang terjadi terhadap anak kita. Terkadang orang tua berfikir, saya sudah mencari uang. Oleh karena itu, mendidik anak menjadi tugas sekolah dalam mencerdaskan dan membuat pintar anak saya. Padahal, waktu anak kita disekolah sangatlah sedikit, tidak kurang dari 12 jam. Artinya, lebih banyak waktunya bersama keluarga, dan kita sebagai orang tua.

Semoga rumah sebagai madrasah utama dan pertama kembali menjadi landasan dalam proses pendidikan anak. Sehingga, anak semakin dekat dengan keluarga, dan tentu kebersamaan peran orangtua dan guru dalam mendidik anak sangat diharapkan.