KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

 أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jamaah Jum’at masjid Darussalam rahimakumullah,

Beberapa waktu lalu, kita baru saja menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang merupakan salah satu bentuk keimanan kita kepada Nabi  Allah Muhammad SAW.

1473 tahun (tahun Hijriyah) atau 1449 Tahun (tahun M) lalu beliau hadir kemuka bumi ini untuk menjadi petunjuk jalan yang lurus bagi kehidupan manusia, menjadi contoh tauladan bagi ummat manusia, dan yang pasti harus menjadi panutan kita dalam kehidupan sehari-hari, untuk itu marilah kita kenang, kita ingat kembali, dua sifat agung yang merupakan pangkat dan keagungan khusus bagi umat Islam, bagi hadirin jamaah Jum’at, khusus bagi kita yang beriman. Dua sifat itu adalah syukur dan sabar.

Dari saat yang mulia ini dan seterusnya sampai akhir hayat, marilah tetap kita sandang dua sifat itu, “syukur dan sabar”. Dalam kesempatan kali ini, setelah mensyukuri hidayah Iman, Islam dan Taqwa, marilah kita sedikit membahas “Syukur atas Iman kepada Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, serta sabar dalam menegakkan sunnah beliau.

  • Iman kepada Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم adalah dasar agama yang benar ini, dienul Islam, sebagaimana sabda beliau صلي الله عليه وسلم:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ...

“Islam itu dibangun di atas lima rukun, bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya ... (HR. Muslim I/45. Lihat Al-Bukhari I/13).

 Setelah beriman kepada Allah سبحانه و تعالي, maka beriman kepada Rasulullah Muhammad صلي الله عليه وسلم adalah sebagai pondasi yang utama. Sebab seluruh pondasi yang lainnya dibangun di atas keimanan pada Allah dan Rasul –Nya , sehingga orang yang tidak mengimani Rasulullah dan hanya beriman kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa saja, itu tidaklah cukup, dan batal Iman yang demikian itu tidak sah.


Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

 

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّة يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَا نِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ. (رواه مسلم)

 

“Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tanganNya! Tidak seorangpun yang mendengar tentang aku dari umat (manusia) ini, seorang Yahudi atau Nasrani, kemudian meninggal dunia dan tidak beriman kepada yang aku diutus karenanya, kecuali ia termasuk menjadi penduduk Neraka”. (HR. Muslim I/34).

Itulah pentingnya beriman kepada Rasul yang merupakan pondasi agama dan amal-amal ibadah. Sehingga tanpa mengimani Rasul alias ingkar kufur pada Rasul, maka gugurlah amal kebaikan serta jauh dari rahmat Allah.

Allah berfirman:

“Dan barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amal-amalnya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang yang merugi”. (Al-Maidah: 5)

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya”.

Bahkan mereka akan ditimpa musibah dan adzab yang pedih, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nur : 63.

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih”.

Oleh sebab itu maka hendaklah kita senantiasa bersyukur kepada Allah atas hidayah Iman kita kepada Rasulullah Muhammad صلي الله عليه وسلم dengan bersabar dalam mengikuti dan mentaati beliau.

Sebagai bentuk kecintaan kita kepada Nabi Allah Muhammad SAW, adalah mencontoh sifat sifat beliau. Ada beberapa sifat nabi yang harus kita contoh dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu sidiq, fatanah, amanah, dan tabligh.

Shiddiq

Shiddiq artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya juga benar, sejalan dengan ucapannya. Beda sekali dengan beberapa pemimpin sekarang yang kebanyakan hanya kata-katanya yang manis, namun perbuatannya berbeda dengan ucapannya.

Mustahil Nabi itu bersifat pembohong atau dusta.

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya” [An Najm 4-5]

Dalam keseharianpun kita diajarkan doa:

Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnattiba’ah, wa arinal bathila bathila warzuqnajtinabah

‘’Ya Allah, tampakkanlah kepadaku kebenaran sebagai kebenaran dan kuatkanlah aku untuk mengikutinya serta tampakkanlah kepadaku kesalahan sebagai kesalahan dan kuatkan pula untuk menyingkirkannya.’‘ (HR Imam Ahmad).

Coba kita lihat dalam keseharian kita, banyak yang tahu kalua melanggal rambu rambu lalu lintas itu salah, tetapi banyak juga yang melanggarnya, zina itu dosa, judi itu dosa, dan contoh contoh lainnya, namun mengapa masih juga dilakukan, karena akal pikirannya tertutup oleh hati yang kotor, hati yang berkarat.

Amanah

Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Oleh karena itulah Nabi Muhammad SAW dijuluki oleh penduduk Mekkah dengan gelar “Al Amin” yang artinya terpercaya jauh sebelum beliau diangkat jadi Nabi. Apa pun yang beliau ucapkan, penduduk Mekkah mempercayainya karena beliau bukanlah orang yang pembohong.

“Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” [Al A’raaf 68]

Mustahil Nabi itu khianat terhadap orang yang memberinya amanah.

Ketika Nabi Muhammad SAW ditawari kerajaan, harta, wanita oleh kaum Quraisy agar beliau meninggalkan tugas ilahinya menyiarkan agama Islam, beliau menjawab:

”Demi Allah…wahai paman, seandainya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kanan ku dan bulan di tangan kiri ku agar aku meninggalkan tugas suci ku, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan (Islam) atau aku hancur karena-Nya”.

Meski kaum kafir Quraisy mengancam membunuh Nabi, namun Nabi tidak gentar dan tetap menjalankan amanah yang dia terima.

Seorang Muslim harusnya bersikap amanah seperti Nabi. Kita tetap menjalankan amanah sebagai apa kita, sebagai pegawai, tidak harus menunggu di lihat oleh atasan, sebagai suami, orang tua, sebagai pemimpin, Ketua RT, Ketua Partai, Pengajar, Pendidik, Kepala Dinas dan lain sebagainya, karena sesungguhnya ada yang Maha Melihat dan mengawasi kita yaitu Allah SWT. Apalagi amanah jabatan itu tidak abadi, dan itupun hanya gelar yang diberikan manusia untuk sementara waktu.

Jamaah jum’at rahimakumullah:

Yang ketiga adalah Tabligh

Tabligh artinya menyampaikan. Segala firman Allah yang ditujukan oleh manusia, disampaikan oleh Nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung Nabi.

“Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” [Al Jin 28]

Kita barang kali sering mendengar kisah-kisah nabi yang mendapatkan ancaman pembunuhan. Bahkan Nabi Ibrahim pun pernah dibakar dan Nabi Yahya dibunuh karena menyampaikan risalah kebenaran dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Hal serupa pernah dialami Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam yang pernah mendapatkan ancaman pembunuhan dan perlakuan tidak menyenangkan lainnya. Bahkan Nabi shallallahu'alaihi wasallam pernah diusir oleh kaumnya sendiri dan memilih hijrah ke Kota Yatsrib atau sekarang dikenal dengan nama Madinah agar dakwah dapat terus berjalan.

Hal ini menjelaskan bahwa tugas nabi dan rasul sangatlah berat. Namun mereka tidak akan menganggapnya berat karena mereka selalu yakin bahwa Allah subhanhu wa ta'ala akan senantiasa membantu mereka.

Setiap kita berkewajiban untuk saling mengingatkan sebagaimana dalam surat Al Ashr ayat 2-3 “sungguh, manusia berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” Namun dalam menyampaikan tersebut tentunya dengan cara yang baik dan waktu yang baik pula.

Jamaah jum’at rahimakumullah:

Selanjutnya adalah Fathonah, Artinya Cerdas. Mustahil Nabi itu bodoh atau jahlun. Dalam menyampaikan 6.236 ayat Al Qur’an kemudian menjelaskannya dalam puluhan ribu hadits membutuhkan kecerdasan yang luar biasa.

Nabi harus mampu menjelaskan firman-firman Allah kepada kaumnya sehingga mereka mau masuk ke dalam Islam. Nabi juga harus mampu berdebat dengan orang-orang kafir dengan cara yang sebaik-baiknya.

Apalagi Nabi mampu mengatur ummatnya sehingga dari bangsa Arab yang bodoh dan terpecah-belah serta saling perang antar suku, menjadi satu bangsa yang berbudaya dan berpengetahuan dalam 1 negara yang besar yang dalam 100 tahun melebihi luas Eropa.

Pada dasarnya masyarakat Islam menginginkan kemaslahatan umat bersama tanpa adanya diskriminasi kelas ataupun agama, tapi bandingkan dengan kondisi sekarang, negara yang telah mengaku menjunjung tinggi demokrasi dan merasa modern pun sifat ego, rasis dan perpecahan sering terjadi.

Sifat ini penting kita miliki dan harus kita pahami supaya tidak terjebak dengan pembodohan-pembodohan yang tidak mendasar, coba lihat kondisi sekarang kita sering di tipu dengan standar IQ, EQ, dan lain sebagainya, yang mana kalua IQ tinggi dianggap cerdas, sedangkan IQ rendah dianggap bodoh dan yang paling rendah adalah autis, padahal anak autis sekalipun memiliki kecerdasan yang luar biasa, kita bisa lihat bagaimana anak terbelakang (autis) menjadi penghapal Al Quran menjadi orang orang hebat. Hanya saja kita sebagai orang tua harus sabar untuk mendidik mereka, kita sebagai guru atau pendidik harus ikhlas mengajari murid kita, dan menyadari setiap anak ada kecerdasan tersendiri.

Jamaah jum’at rahimakumullah:

Mengimani Nabi Muhammad SAW, berarti sepenuhnya kita berusaha untuk mencontoh kehidupan beliau, yang mana sekarang ini mencari contoh dan tauladan sangat sulit, padahal kalau kita mau, kita sudah dari dahulu memiliki contoh dan panduan dalam kehidupan sehari-hari yakni Nabiallah Muhammad SAW itu sendiri.

Mulai dari kehidupan remajanya, beliau adalah remaja yang tangguh, yang selalu ikut pamannya berdagang, dan beliau adalah juga pemuda yang jujur dan amanah, sehinga gelar Al Amin melekat erat padanya.

Sebagai suamipun, beliau merupakan suami yang bertanggung jawab dan romantic juga sangat dekat dengan dan mencintai keluarganya.

Sebagai sahabat beliau adalah sahabat yang setia kawan

Sebagai Pemimpin beliau adalah pemimpin yang adil.

 

Jamaah jum’at masjid Darussalam rahimakumullah:

Demikianlah khotbah yang singkat ini semoga kita dapat mengambil hikmahnya dan menjadi standar kehidupan kita sehari-hari.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

 

KHUTBAH KEDUA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Diakhir khutbah kedua ini dapat kami simpulkan

Pertama Hendaklah kita meneladani akhlaq dan kepemimpinan Nabi صلي الله عليه وسلم dalam setiap amal dan tingkah laku, itulah petunjuk Allah:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah”. (Al-Ahzab:21).

Kedua Memuliakan dengan banyak membaca shalawat salam kepada beliau صلي الله عليه وسلم terutama setelah disebut nama beliau.

رَغِمَ اَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ (رواه الترميذي)

“Merugilah seseorang jika disebut namaku padanya ia tidak membaca shalawat padaku.” (HR. At-Tirmidzi)

Semoga diakhir kehudpan kelak kita mendapat safaat beliau, karena itulah yang akan menolong kita masuk ke jannah-Nya Allah SWT dan berkumpul bersama orang orang yang beriman

 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ

 

Add comment


Security code
Refresh

Latest News

Most Read

  • Minggu

  • Bulan

  • Semua